Jangan nikah sama orang sana, Mahal!

Apa yang ada di kepala teman-teman saat membaca judul di atas?
Hehe, bagi yang belum tahu, saya adalah seorang perantauan dari Jawa yang sekarang tinggal di Makassar. Saya dan rekan seangkatan STAN yang sama-sama jadi perantau mungkin ngga’ asing dengan kalimat tadi. Bahkan mungkin ada yang dipesen begitu sama orang tuanya, hehe. Ya, biasanya orang tua itu memang maunya kan ngga’ dapat yang jauh-jauh (maksudnya istri), pengennya yang deket-deket aja begitu. Rupanya, selain pertimbangan asal, ada pengaruh juga pertimbangan ‘mahal’ itu. Hehe

Saya sendiri tidak mendapatkan pesan apa-apa dari orang tua, tapi sempat seorang rekan kerja dulu di Surabaya bilang begini, ya agak bercanda juga sih nadanya.
“Il, kowe ojo ndelek bojo arek kono, larang. Arek kene ae, dike’i seperangkat alat sholat wes gelem.” (Il, kamu jangan nyari istri orang sana, mahal. Orang sini aja, dikasih seperangkat alat sholat sudah mau)
Saya cuma tertawa mendengarnya, yang lain pun cuma menanggapinya sebagai guyonan segar sebelum pulang kerja.

Ada budaya memang, sedikit saya ceritakan, di Sulawesi Selatan ini ketika menikah itu selain mahar, ada juga uang belanja yang harus disiapkan oleh calon suami, atau dalam bahasa setempat disebut sebagai uang panae’. Uang panae’ ini tidak sama besarnya, tergantung keadaan calon istri itu. Semakin keren calon istri, maka panae’-nya juga semakin mahal. Pertimbangan yang digunakan antara lain, gelar bangsawan (punya nama ‘Andi’), jenjang pendidikan, pekerjaan, punya rumah atau belum, juga gelar yang lain, misalnya sudah berhaji. Jadi, itu semua dikonversikan ke dalam nilai rupiah secara umum, dan ditotal secara keseluruhan. Serius banget nih bacanya,.. :mrgreen:

Sebelumnya saya mohon maaf, saya berbicara di sini bukan sebagai orang jawa yang anti terhadap budaya sulawesi selatan. Namun saya berbicara sebagai anak Indonesia yang merasa ikut memiliki juga budaya di sini,. ciee. Haha. πŸ˜†

Saya mendapati, ternyata di kalangan orang Makassar pun, merasa cukup ‘terbebani’ dengan budaya ini. Setidaknya itu yang saya tangkap dari beberapa pembicaraan dengan mereka. Pernah suatu ketika ada yang tanya begini
“Ismail orang jawa kah?”
“Iya kak,..”
“Enak di’ kalau orang jawa tho. Kalau menikah ndak mahal ji kayak orang sini. Edede,.. kalau orang sini, kalau sudah bekerja apalagi pendidikannya tinggi, ih, mahal sekali itu.”

Pernah juga saya waktu masih kuliah dulu ngobrol2 sama temen-temen Makassar. Ada salah seorang teman bilang begini ke teman perempuan dari Makassar.
“Kan, sebaik-baik wanita itu, kata Rasul yang maharnya murah.”
“Eih,. kalau kami tho, ngga masalah berapapun maharnya. Cuma keluarga pasti persoalkan. Masalahnya gini, kalau misalnya ada cewek yang dinikahi baru ternyata panae’-nya murah. Orang pasti melihat dengan pandangan negatif. Entah dibilang ceweknya yang ngebet, atau bahkan dibilang hamil duluan.”
“Ih, segitunya?.”
“Makanya itu..”

Saya sendiri melihat fenomena ini (deh, bahasanya), bukan masalah nominalnya yang utama. Namun yang perlu diperhatikan saya pikir, apa si calon suami punya kemampuan untuk memenuhi itu. Kalau adanya uang panae’ ini justru menyusahkan dan menghalang-halangi mereka untuk menikah, itu yang patut disayangkan. Namun kalau memang tidak memberatkan dan calon suami mampu, maka anggap saja itu sebuah bentuk memuliakan seorang calon istri.

Meski demikian, saya tetap berpendapat bahwa seharusnya sistem itu dibangun untuk memudahkan seseorang untuk menikah karena kalau kita lihat di Al-Qur’an pun, perintah menikah itu bukan hanya ditujukan bagi mereka yang akan menikah (pelaku), tapi juga ada perintah secara umum kepada orang-orang di sekitar mereka (orang tua serta masyarakat pada umumnya, termasuk juga negara) agar menikahkan mereka-mereka yang masih sendiri. Bahkan saya sempat berpikir, kalau seharusnya tunjangan istri bagi PNS itu ditingkatkan. Ya, maksudnya, masa’ tunjangan istri cuma 10 % dari gaji pokok. Kalau ingin mendorong mereka untuk menikah, ya harusnya tunjangan istri lebih dari 50 %. Hehe,.. ngarep ini πŸ™‚

Kembali ke persoalan memuliakan calon istri tadi, kalau kita melihat sejarah. Kita tahu, saat Rasulullah menikah dengan bunda Siti Khadijah radliallahu anha, beliau memberikan mahar 20 ekor unta. Kalau dihitung, anggaplah seekor unta 13 juta, kan berarti total 260 juta.Β  Itu jumlah yang besar secara nominal, namun Rasulullah mampu dan beliau melakukannya (catatan: beliau kala itu belum diangkat menjadi rosul). Tentunya ada juga contoh lain, ketika Ali bin Abi Thalib radliallahu anhu menikahi putri Rasulullah, Fathimah, maharnya apa? baju besi. Yaa baju yang dipakai perang itu. Secara nilai, tentu saja bukan sesuatu yang ‘keren’, tapi memang hanya itu satu-satunya barang berharga yang dimiliki Ali radliallahu anhu.

Satu hal yang harus kita perhatikan, bahwa pernikahan bukanlah tujuan final namun ia adalah sebuah gerbang perjuangan. ededeh, bijak tawwa. πŸ˜€
Ya maksudnya, jangan terlalu sibuk dengan pernak-pernik perjalanan hingga kita lupa esensi dan tujuan.
Ok lah, terimakasih sudah membaca πŸ™‚
Horas!, eh salah
Torang samua basodara…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s