Mengapa Jokowi menjadi “Ojokuwi”?

bismillahirrahmanirrahim,.
Saya ingin menulis ini setelah melihat di timeline begitu banyak pemberitaan pasca pilpres kemarin, banyak yang share link, foto, segala macem lah pokoknya. Bahkan kemudian, ada semacam trend menyebut salah satu capres, Jokowi menjadi Ojokuwi.  Ojokuwi sendiri berasal dari bahasa jawa yang kurang lebih berarti ‘jangan yang itu’. Ini terlihat seakan menolak Jokowi, yang dalam beberapa quick count memperoleh suara lebih banyak dari pasangan capres yang lain. Sebelumnya mohon maaf, tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyudutkan pihak manapun.

Terus terang saya kurang nyaman dengan situasi yang tergambar di timeline itu, teman-teman saya yang memang dari awal  gencar sekali mendukung salah satu pasangan capres, baik no 1 maupun no 2, masih saja menyebarkan berita yang menyanjung-nyanjung capres pilihannya juga berita menyudutkan bahkan mencela capres yang lain. Termasuk adanya pernyataan ‘Ojokuwi’ ini. Selain itu, ada juga sanjungan kepada media televisi tertentu terkait dengan pemberitaan saudara-saudara kita yang ada di Palestina. Apalagi pernyataan-pernyataan itu kemudian juga membawa nama agama.

Saya bukan anti palestina, saya bukan anti islam. Saya muslim sebagaimana saudara-saudara semua. Pertama saya ingin mengingatkan, bahwa salah satu akhlak dalam islam adalah tidak memuji secara berlebihan, apalagi menyanjung. Rasulullah sendiri bahkan mewanti-wanti kita dengan menyebut bahwa bila kita memuji seseorang secara berlebihan, sama saja kita telah memenggal lehernya. Begitu kerasnya larangan Roulullah ini.

Celaka kamu, kamu telah memenggal leher temanmu -berulang ulang-. Kalaupun salah seorang di antara kalian harus memuji temannya, maka hendaknya dia mengatakan : Aku mengira dia seperti itu, dan Allahlah yang menghisabnya, aku tidak memuji siapapun di hadapan Allah.
HR. Muslim no 3000

bahkan di dalam hadist yang lain, dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radliallahu anhu dia berkata:

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke wajah-wajah orang yang berlebihan dalam memuji.”
HR. Muslim no 3002

Kita melihat Rasulullah menaruh perhatian besar pada perkara ini, hal ini karena pujian yang berlebihan akan menimbulkan fitnah dan membahayakan bagi mereka yang dipuji. Dia akan tersanjung dan yang kemudian akan melahirkan ujub atau berbangga diri, lalu akan melahirkan kesombongan, memandang rendah rendah orang lain dan pada akhirnya menganggap semua tindakannya adalah kebenaran. Na’udzu billah. Oleh karena itu, bersikaplah biasa saja, ber-husnudzon-lah kepada orang lain, karena yang kita tahu hanya yang terlihat, sedang Allah Maha Tahu segalanya.

Yang kedua adalah mencela, jelas bukan akhlak islam. Bahkan islam mengajarkan untuk tidak mencela orang yang telah mencela kita. Kita mungkin pernah mendengar kisah ini. Dalam salah satu riwayat disebutkan, suatu ketika ada seseorang di masjid dan ada Rasulullah di situ. Tiba-tiba datang seseorang dan langsung menghina serta mencela orang yang ada di masjid tadi. Orang yang di masjid tetap diam, ia menoleh kepada Rasulullah dan Rasulullah tersenyum. Seseorang tadi melanjutkan celaannya, namun orang yang di masjid tetap diam. Ia menoleh kepada Rasulullah dan Rasulullah tersenyum. Sampai akhirnya orang yang mencela tadi membawa-bawa orang tua dalam celaannya dan rupanya ini membuat orang yang di masjid tadi ikut emosi, dan ia membalas mencela. Beberapa saat kemudian, baru orang ini kemudian sadar bahwa Rasulullah telah pergi dari situ. Maka ia segera menyusul Rasulullah dan kemudian menanyakan apa yang terjadi. Rasulullah mengatakan, ” Ketika orang tadi mencelamu dan kamu diam aku melihat kerumunan malaikat yang mendoakanmu , itulah sebabnya aku tersenyum. Ketika orang itu mencela lagi dan kamu tetap diam, maka kerumunan malaikat itu semakin banyak. Namun ketika kamu mambalas mencela, malaikat-malaikat itu segera pergi, dan kemudian setan lah yang ada di sekelilingmu. Karena aku tidak suka melihatnya, maka aku pun pergi.”
(maaf, hadist terkait kisah ini bisa dicari sendiri, tetapi insyaAllah intinya sama)

Bahkan salah satu kemuliaan islam mengajarkan, untuk mengatakan perkataan yang baik (salam) kepada orang yang mencela. Subhanallah.

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.
QS. Al-Furqan : 63

Yang ketiga, terkait dengan masalah ‘Ojokuwi’ tadi. Bagimanapun berita-berita yang telah kita ketahui bersama tentang beliau, latar belakang beliau dan sebagainya, saya tetap ingin mengupayakan berbaik sangka, ya ber-husnudzon. People grow, people change. Manusia itu makhluk dinamis, dan seseorang bisa saja berubah. Mohon maaf, saya tidak mengatakan bahwa Pak Jokowi tidak baik. Saya membuka pikiran bahwa tidak semua tulisan, apalagi di media sosial adalah benar, kita sendiri yang harus menyaringnya. Lebih dari itu, kita tidak pernah tahu hati seseorang. Allah lah Yang Maha Tahu, juga Yang Maha Membolak-balikkan hati, Yang Maha Memberi Hidayah. Kita mungkin tidak bisa mengubah situasi yang ada, tapi Allah bisa, dan itu mudah bagi-Nya.

Sekali lagi saya mengingatkan, mencela itu bukan solusi, dan tidak akan membawa pada kebaikan. Bila memang kita niatnya baik, ingin melakukan yang baik, ya lakukan itu dengan cara yang baik. Mari kita tunjukkan bahwa islam itu indah, islam itu mulia. Terakhir, kita tidak pernah tahu mana yang lebih baik bagi kita dan Allahlah sebaik-baik Pembuat rencana. Masih ingat dengan do’a Nabi Yusuf alaihissalam ketika dijebloskan ke penjara?

Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”
QS. Yusuf : 33

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s