(Berhasil) Nyoblos

10409069_775068322560049_7376006239020579815_n

Yak, 9 Juli 2014. Pesta demokrasi (bilangnya sih biasanya gitu) berupa pemilihan umum presiden dan wakil presiden yang akhir-akhir ini pemberitaannya selalu jadi headline, baik di teve, koran, macem-macem lah sampai status-status facebook, share link yang aneka ragam berita, ngga tau, berita dusta atau huru-hara. Hehe. Pokoknya timeline fb itu selalu ada deh yang kayak gitu.

Begitulah, pilpres kali ini, terasa sekali antusiasme massanya, karena selain memang hanya ada dua pasangan calon, sehingga kayaknya memang duel begitu. Hehe, kan ngga’ ada pasangan calon yang lain. Juga karena tampaknya, setahu saya sih, kekuatan kedua pasangan ini cukup berimbang. Dua-duanya calon baru, bukan incumbent. Ya, pasangan pertama Prabowo Subianto-Hatta Radjasa dan yang kedua Joko Widodo-Jusuf Kalla. Prabowo dan Jusuf Kalla saya kira sudah cukup dikenal dalam bursa capres-cawapres di pemilu-pemilu sebelumnya, tapi capres Joko Widodo? mungkin namanya baru dikenal sekitar 4-5 tahun belakangan ini.

Oke, saya ngga’ akan bahas tentang pasangan capres-cawapres ini, udah bosen juga kali bahas mereka terus di pemberitaan media. Saya hanya akan bercerita tentang keberhasilan saya menggunakan hak suara saya siang tadi, hehe. Apa? itu mah biasa banget. Namun demikian teman-teman, saya pikir ini istimewa mengingat di pemilu legislatif kemarin saya gagal menggunakan hak suara. Ini dia ceritanya, tara…

Pagi ini, saya yang memang ditugaskan lembur oleh kantor mengawali hari seperti biasa.. Hehe, sabar, namanya juga cerita. Oiya, mungkin teman-teman ada yang ngga’ tahu ya, di kantor pelayanan pajak seperti kantor saya ini, memang biasa ada instruksi khusus ketika ada pemilu, jadi biasanya pelayanan tetap dibuka dengan menjadwalkan beberapa pegawai agar tetap masuk seperti biasa. Dan hari ini saya termasuk salah satu dari sekian pegawai yang diberi surat tugas.

Sejak kemarin-kemarin, terus terang saya belum tahu apa-apa tentang bagaimana caranya biar bisa nyoblos di sini, secara domisili atau KTP saya alamatnya adalah Jombang. Nah, tadi pagi sempat bicara sama temen-temen kantor yang juga sama-sama perantau. Denger-denger, ya info dari teman di fb, kita tetap bisa nyoblos dengan membawa KTP plus fotocopynya di akhir-akhir pemungutan suara, jam 12-an lah. Jadi tadi itu, saya ke TPS terdekat dulu, memastikan bener ngga’ nih infonya. Saya ke sana dan bertemu dengan ketua KPPS yang ada di sana.

Saya : “Pak, saya mau tanya nih pak. Saya dari gedung keuangan situ pak, ada beberapa pegawai di sana yang domisilinya itu jauh pak, ada yang jawa timur, jawa tengah, bali. Kalau kami ingin menggunakan hak suara kami pak, caranya bagaimana ya?”

Bapak : “Oh, bisa mas. Nanti ke sini aja sekitar jam 12, itu cukup membawa KTP aja, fotocopynya, bisa milih di sini.”

Saya : “Bisa pak ya, ngga’ harus pake form A5″

Bapak : ” Iya mas, bisa. Intinya, yang kami dahulukan kan yang ada di DPT, tapi setelah itu, kalau memang ada pemilih seperti mas ini, bisa asalkan surat suara kami masih ada.”

Saya : “Iya. Terimakasih pak.”

Itu rasanya lega sekali, seperti mendapat angin segar. Haha, lebay. Ya, maksudnya, bisa nyoblos itu kan sesuatu banget gitu ya, apalagi bukan di TPS sendiri. Hehe. Mungkin ada diantara teman-teman yang bertanya, ngapain sih, kayaknya berjuang sekali cuma buat bisa nyoblos? Gini ya, menurut saya, terlepas dari cara pemilu seperti ini efektif atau tidak, fair atau tidak. Satu dari suara kita itu berpengaruh. Kan cuma satu suara? Makanya itu, suara kita dihargai sama lho, yang memilih dengan pertimbangan, bahkan dengan doa dan istikharah, sama yang memilih cuma ikut-ikutan atau misalnya gara-gara sejumlah uang dan yang lainnya. Setidaknya kita yang melek informasi, yang memilih dengan akal, saya bisa katakan demikian itu ada suaranya. Jadi suara yang yang masuk bukan hanya suara yang asal-asalan, ada suara kita di situ, ada kontribusi kita di situ.

Saya tambahkan lagi, saya yakin kalau tidak ada sesuatu yang sia-sia. Saya dan teman-teman yang ada di Direktorat Jenderal Pajak ini jumlahnya sekitar 33.000 lebih yang tersebar di seluruh Indonesia. Jadi banyak diantara kami ini yang menjadi perantau, saya termasuk. Kalau semua perantau-perantau itu apatis, dan tidak menggunakan hak pilih. Rugi sekali kan? betapa banyak suara yang hilang, padahal saya pikir itu suara yang berharga karena dilihat dari latar pendidikan pun, bisa dibilang memadai, artinya tahu lah situasi saat ini. Sebaliknya, bila semua perantau-perantau tadi ikut aktif dan berpartisipasi, ada sumbangan suara cerdas kan?

Saya kira ada benarnya juga slogan pemilu, Pemilih cerdas, Pemilu berkualitas. Tapi kan, kalau lo ngomongnya sekarang, telat bro? orang pemilunya udah selesai. Hehe, ya tentang ini, kan awalnya tadi saya cuma pengen cerita dan Alhamdulillah memang saya denga teman-teman tadi berhasil nyoblos. Saya cuma ingin menyampaikan aja, kalau ngga’ ada sesuatu yang sia-sia, sekecil apapun, akan membawa pengaruh. Mengenai nanti siapa yang terpilih, ya nanti tinggal terima. Ibaratnya kalau kita mancing, tugas kita siapkan pancingnya, umpannya, cari spot yang bagus. Dapat ikan atau ngga’, dapat ikan apa, berapa, segede apa, itu mah bukan wilayah kita lagi. Nyambung ngga’ sih ibaratnya ini?, intinya gitu lah, tugas kita cuma berusaha, sebaik yang kita bisa. Gitu aja deh, cukup. Hehe.

Thanks for reading guys,.. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s