Gol Bunuh Diri

Suka sepak bola?
Setidaknya pasti pernah lihat lah pertandingannya, meski ngga’ full time. Tentang judul yang saya pilih kali ini, ya, tentang gol bunuh diri, yang mungkin merupakan mimpi buruk bagi setiap pemain bola. Pernah lihat kejadiannya? Pernah perhatikan detailnya ngga?

Ketika melakukan kesalahan ini, own goal (saya lebih suka ungkapan ini dibandingkan gol bunuh diri karena saya pikir ini adalah kesalahan yang mungkin akan terus disesali si pemain, jadi menurut saya ngga’ pas aja bila dibilang gol bunuh diri) pasti kemudian si pemain ini melakukan reaksi yang bermacam-macam. Ada yang dengan tangan di lutut, menatap tak percaya pada bola yang bersarang di gawang sendiri. Ada lagi yang sambil tergeletak menatap langit, kemudian menutup wajah dengan dua telapak tangan, macam-macam lah reaksinya yang tak lain adalah ungkapan penyesalan.

Kemudian, pernah perhatikan bagaimana reaksi rekan se-tim?
Kalau kita perhatikan, kurang lebih tindakannya sama, akan ada rekan yang menghampiri si pemain ini. Bila masih tergeletak, akan ia bantu berdiri. Sedikit menepuk bahu dan mungkin mengatakan sesuatu yang tak terdengar dari siaran televisi. Ya, seperti itu. Mengapa? karena memang itulah yang dibutuhkan.

Gol sudah terjadi. Menyalahkan? itu bukan penyelesaian, dan para pemain tahu itu. Maka mereka akan kembali ke formasi masing-masing untuk melanjutkan pertandingan, mengejar ketertinggalan dan berharap bisa membalikkan keadaan. Bukankah itu yang terpenting? masih ada waktu kok, peluit panjang belum dibunyikan.

Itu di sepakbola. Contoh yang bagus bukan?
Lantas mengapa ketika ada orang yang punya salah sama kita, dan bahkan orang itu sudah meminta maaf namun kita tetap saja marah, ngga’ bisa terima? Bilang kesalahannya terlalu besar untuk dimaafkan. Mengapa?
Mengapa kita tidak bisa seperti pemain sepakbola tadi? Membantunya berdiri, menepuk bahu dan mengucapkan kata-kata yang meringankan penyesalannya.

Boleh jadi kalau kita lebih perhatikan, mengapa para pemain tadi bisa melakukan yang seperti itu. Ya, itu karena mereka tahu, mereka faham bahwa jika mereka yang berada di posisi pemain ini, bisa jadi mereka melakukan hal sama atau bahkan justru lebih buruk. Lebih penting dari itu, mereka tidak menutup mata bahwa pemain yang melakukan kesalahan di menit 35 ini, tadi telah melakukan penyelamatan gemilang di menit ke 14, menggagalkan serangan musuh di menit ke 22 misalnya serta mungkin akan mencetak gol penyeimbang di menit 42 atau bahkan gol penentu kemenangan di menit-menit akhir pertandingan. Bukan tidak mungkin kan?

Sayangnya, itu yang sering tidak bisa kita lakukan. Ketika seseorang melakukan kesalahan, seolah-olah tidak ada kebaikan sedikitpun padanya di mata kita. Kita lupa semua jasa dan kebaikan yang selama ini ia lakukan. Ya, kita tidak bisa obyektif menilai karena ia sudah buruk di mata kita.

Obyektiflah. Dia memang melakukan kesalahan, namun jangan menutup mata pada kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan.

Ketika Rosulullah ditanya mengapa kaum wanita banyak menghuni neraka, maka Beliau menjawab karena para wanita itu kufur.
“Apa mereka kufur kepada Allah wahai Rosulullah?”
“Tidak, mereka kufur pada kebaikan-kebaikan suami mereka”, jawab Beliau.

Obyektiflah. Ya, obyektiflah.
Tidak ada orangtua yang sempurna. Tidak ada suami/istri yang sempurna. Tidak ada saudara, teman, rekan kerja, atasan, siapapun dalam hidup kita ini yang sempurna selama ia menyandang status sebagai manusia. Jadi, ya terima mereka, pahami dan maafkan. :))

Dan berilah kesempatan, karena seringkali pemain yang melakukan own goal, kemudian mencetak gol penyeimbang dan tak jarang gol kemenangan. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s