Putriku

Entah sudah berapa lama aku hanya duduk di sini. Hanya diam dan memandang putriku yang sedang terbaring lemah. Tak sepatah kata pun terucap darinya, pun dariku. Hening sekali rasanya. Aku menatap ke atas, pada berkas-berkas cahaya yang melewati celah-celah genting.

Kupandang lagi dia. Tergambar jelas beban pikiran dari gurat-gurat di wajahnya. Masih lekat dalam ingatanku, ketika aku mencoba memberi pengertian padanya beberapa hari yang lalu.

“Nak, kalau kamu seorang laki-laki. Kamu bebas memilih siapa yang akan menjadi pasangan hidupmu. Karena nantinya kalau sudah menikah, kamu yang akan memimpin, kamu yang akan bertanggungjawab. Tapi kamu perempuan nak, kamu akan ikut bagaimana suamimu nanti menjalani hidupnya. Ayah tahu kamu mengerti.”

Waktu itu, dia yang hanya tertunduk, kemudian menatapku sejenak. Tanpa bicara apa-apa.

Di mataku, tidak ada yang salah dengan pemuda itu. Dia anak yang baik. Bahkan dia bekerja sedemikian kerasnya, itu pun dengan label membantu ibunya, karena memang ayahnya tak mampu lagi bekerja. Dia anak bungsu, dan kedua orang tuanya sudah cukup tua untuk bekerja di sawah. Lantas putriku? dia juga bukan anak yang istimewa, bukan lulusan sekolah tinggi atau apa. Toh memang kami orang desa. Aku pun bukan orang yang kaya. Hanya saja, aku punya beberapa bidang tanah sawah. Aku hanya merasa tak tega, kalau nantinya melihat putriku yang selama ini hanya pergi ke sawah untuk mengirim makanan kemudian benar-benar pergi ke sawah untuk mencari penghidupan. Ikut dalam rutinitas suaminya. Ya, rutinitas seorang buruh tani.

Apa aku terlalu egois? Menginginkan sesuatu yang lebih? Aku tahu kebahagiaan bukan hanya dari materi, tapi..

“Ayah,..”, suara lembutnya membangunkanku dari pikiranku sendiri.

“Iya, apa nak?”

“Aku ingin menyampaikan sesuatu. Aku hanya ingin ayah tahu bahwa seseorang yang akan jadi calon suamiku ini, aku tahu siapa dia yah. Aku tahu dia bukan orang berpunya, tapi aku juga tahu dia bukan orang yang malas. Aku tahu dia orang yang punya komitmen, dan aku percaya yah, dia tidak akan menyia-nyiakan aku. Kalaupun nanti setelah menikah, aku harus ikut dalam kesehariannya, pergi ke sawah dan sebagainya, berpanas-panasan, tapi aku akan bahagia yah. Ya, aku akan menjalaninya dengan bahagia.” Dia tutup kalimat itu dengan senyum yang merekah, sebulir air mata mengalir dari matanya yang indah.

Aku kehilangan kata-kata. Aku menatap ke atas, pada berkas-berkas cahaya yang melewati celah-celah genting. Kurasakan pandanganku kabur, air mataku menetes. Betapa egoisnya aku, betapa aku tidak memahami apa itu kebahagiaan. Kembali kupandangi ia, kutatap matanya. Aku masih tak bersuara, hanya senyuman terindah yang kuberikan untuknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s