“Cantik”, Sebuah Cerpen

Ini adalah sebuah cerpen yang saya temukan dalam salah satu status facebook teman,.. Saya merasa ada sesuatu yang menarik dalam cerita ini sehingga hal itu mendorong saya untuk mem-post-nya di sini,.. Silahkan dinikmati.. 🙂

Cantik

“Aku lelah menjadi orang cantik”, katamu tiba-tiba.

“Wehh kok, kenapa?”, aku bertanya balik.

Adalah dia, teman baikku dari kecil. Perempuan yang memiliki paras cantik sejak bayi. Sudah bukan rahasia lagi bahwa dia adalah kembang sekolah. Primadona sejak sekolah dasar hingga SMA. Kini di kampus pun begitu rupanya. Dan aku, aku adalah temannya dari kecil yang tidak terpesona sama sekali dengan kecantikannya. Biasa saja.

Dia tiba-tiba menangis. Tidak seperti biasanya. Tidak biasanya. 

“Ada apa?”, tanyaku menurunkan suara.

“Aku lelah menjadi cantik. Aku benci karena setiap laki-laki yang mendekatiku selalu dengan alasan karena aku cantik. Tidak pernah aku menemukan dari mata mereka ketulusan. Adapun perhatian dan sebagainya, semuanya dibuat-buat. Ya karena aku cantik”.

Jeda.

Seperti biasa aku mendengarkan, tidak perlu sama sekali menimpalinya.

“Aku tidak ingin dicintai karena kecantikanku ini. Betapa bahagianya menjadi perempuan yang memiliki wajah yang biasa saja menurut pandangan manusia. Tapi ada dan selalu ada laki-laki yang bisa melihat kecantikannya. Sementara aku, semua orang melihatku sama, karena aku cantik”.

“Setiap malam, ingin sekali ada keajaiban. Esok pagi bangun dari tidur dan wajahku tidak secantik ini. Aku ingin tahu, siapa yang benar-benar menerimaku, mana yang tidak”

“Kamu jangan diam saja!”, tatapnya ketus.

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Tapi diluar sana, perempuan seusiamu berusaha mati-matian agar bisa cantik dan usaha mereka tidak pernah mengalahkan kecantikanmu. Meski kamu baru bangun tidur sekalipun”, kataku sambil mengangkat bahu. Dia menghembuskan nafas.

“Entahlah apa yang ada dipikiran mereka. Mengapa harus menarik perhatian laki-laki dengan fisik. Aku benci melakukan itu.”

Dia menangis lagi.

“Aku lelah menjadi perempuan cantik. Apa aku salah? Apa aku kurang bersyukur?”, dia bertanya.

Aku bingung menjawabnya. Tidak pernah aku menemukan kasus seperti teman baikku ini. 

“Aku hanya ingin dicintai bukan karena aku cantik. Itu saja. Dan aku tidak, mungkin belum, menemukannya sampai saat ini”, dia meneruskan katanya.

“Seberat itukah perasaanmu memiliki paras cantik? Cantik ini menjadi ujian berat bagimu?”.

“Iya”, jawabnya lemah hilang oleh suara AC perpustakaan pusat kampus. 

Selanjutnya kami berdiam diri untuk beberapa lama. Berpikir dalam dunia kami masing-masing. Betapa cantik hatinya. Pikirku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s