Waktu, begitu cepat berlalu,..

“Le,. memangnya kamu sudah senang ya buat bekerja?”, ibu saya bertanya suatu ketika..
“Maksud ibu?,”
“Ya,.. kalau ibu lihat kan kamu masih senang bermain,.. malah kalau bermain sama anak kecil-kecil.. kalau nanti kerja kan dunianya beda,.. ” ibu melanjutkan dengan tersenyum,..
“Oo,.. ya memang kalau bermain ya,.. bermain,.. tapi kalau kerja ya kerja aja,.. hehe”, jawab saya sekenanya,..

Mm,.. itu adalah sepenggal percakapan saya dengan ibu beberapa bulan yang lalu,.. Waktu itu memang waktunya saya dan teman-teman seangkatan buat mempersiapkan berkas-berkas yang disyaratkan untuk pengangkatan CPNS,.. Ya,.. saya adalah salah satu lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN),.. saya dan ibu waktu itu sama-sama menyadari bahwa mungkin dalam waktu dekat saya akan mendapat ‘panggilan’ kerja.. Itulah mengapa beliau bertanya seperti itu kepada saya,.. Mungkin di mata ibu, saya masih anak yang baru kemarin keluar rumah,.. hehe ๐Ÿ™‚

Memang,.. saya juga merasa,.. bahwa,.. kayaknya baru kemarin saya ย itu diantar sama ibu ke sekolah,.. dibonceng di belakang naik sepeda mini,.. kemudian berangkat bareng-bareng dengan beberapa tetangga yang juga mengantar anaknya ke sekolah,.. Di sekolah kami waktu itu,.. jarang yang sebelumnya sudah belajar di TK,.. kebanyakan langsung ke SD,.. ย jadi ya gitu,.. belum bisa baca,.. tangan masih kaku buat nulis,.. banyak yang masih nangis,.. hehe ๐Ÿ˜€ Ya,.. pokoknya benar-benar Sekolah “Dasar”…

Saya masih ingat,.. ketika hari pertama,.. teman-teman semua duduk rapi sebangku dua anak,.. sedangkan saya?,.. saya sebangku dengan ibu,.. hehe ๐Ÿ˜€ Ya,.. memang waktu itu saya yang ngga’ mau ditinggal,.. mungkin masih jarang ketemu orang banyak ya,.. tau lah,..
Jadi,.. guru saya yang di depan itu,.. cuman ngasih pengarahan-pengarahan,.. dan memperhatikan teman-teman yang lain,.. sedangkan saya?,.. kan sudah ada ibu di samping kanan,.. yang menjelaskan, memberikan dorongan,. dan benar-benar membimbing seorang ismail waktu itu,.. Dan perlu diketahui,.. itu tidak hanya terjadi di hari pertama saja,.. hari-hari berikutnya pun nyaris tak berubah,..

Hal seperti itu berlangsung tiap hari,.. namun tidak saya lihat adanya raut susah apalagi payah di wajah ibu,.. Setiap pagi,. Ibu dengan semangat mempersiapkan segalanya sampai mengantar saya ke sekolah,. mungkin juga dengan harapan kondisi anaknya akan membaik hari itu,.. Sampai suatu ketika ibu bilang,.
“Nak,.. ibu tunggu di luar ya,.. lihat itu,.. teman-teman ngga’ ada yang ditunggu ibunya di dalam,..”
“Iya,.. tapi ibu jangan kemana mana ya,..”
“Iya,.. nanti ibu lihat lewat jendela itu,..” dan ibu pun keluar,..
Waktu itu saya di-satubangku-kan dengan seorang teman yang sudah sangat ‘mengerti’,. tampaknya dia alumni TK,.. tulisannya rapi,. dan anaknya pun bersih,.. ๐Ÿ™‚

Sejenak,.. segalanya baik-baik saja,.. hehe
Ya,.. saya menulis sambil tetap memantau ibu saya yang berdiri di jendela (waktu itu tinggi jendela sekitar sebahu orang dewasa,.. jadi saya bisa melihat wajah ibu saya di sana)..
saya menulis,.. melihat ke jendela
saya menulis,.. melihat ke jendela lagi.. begitu seterusnya..
sampai suatu ketika saya menengok ke jendela dan tidak saya lihat ibu di sana,…
entah apa yang ada di pikiran seorang ismail waktu itu,.. ia panik dan segera memberesi alat2 tulis,.. memasukkannya ke tas,.. dan berlari keluar,.. “Ibu,.. !”, teriaknya..
“Hee,.. kenapa,.. wong ibu di sini aja kok,..”, ujar ibu menenangkan..
“Ayo-.. udah masuk lagi,.. sama ibu.. “… ๐Ÿ™‚

SubhanAllah,.. Mm,.. memang waktu itu saya masih berusia 5 tahun,.. (idealnya SD kelas 1 itu 6 tahun)
Bagi teman-teman (putri) bisa dibayangin aja,.. gimana rasanya nunggu anak di sekolah seperti itu,.. Waktu itu usia ibu saya sekitar 25 tahun (usia kami terpaut 20 tahun),.. menunggu anak satu-satunya di dalam kelas,.. dan tidak ada ibu yang lain,.. ditambah lagi,.. guru kelas 1 saya adalah pak guru,.. bukan bu guru,..
Terimakasih ibu,..
Uhibbuki yaa ummii,.. ๐Ÿ™‚

Tidak terasa,.. sekarang anak kecil itu sudah hampir 21 tahun,..
ternyata,.. kehidupan itu singkat,.. dan saya pikir kita semua merasakannya,..

this worldly life has an end
and it’s then real life begins
a world where we will live forever

this beautiful worldly life has an end
it’s just a bridge that must be crossed
to a life that will go on forever

-Maher Zain-
-This Worldly Life-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s